Friday, 28 February 2014

Es Kopi dan Coklat Hangat

Hari, minggu, bulan, waktu yang terlewati tak bisa dihitung. Seperti malam itu, segelas es kopi dan secangkir coklat hangat terhidang di meja. Ada dua pasang mata yang terkadang bertemu, sepasang mata menatap, sepasang mata berusaha melihat arah yang berbeda karena jengah. Rasa jengah yang indah, rasa jengah karena debaran jantung berirama, menggelitik, menyiksa sepanjang waktu.
Malam menyembunyikan rona merah di wajah secangkir coklat hangat. Temaram cahaya, menyembunyikan rona merah dan gelisah yang bergejolak menggoda secangkir coklat hangat.

Segelas es kopi dan secangkir coklat hangat, entah apa yang mereka pikirkan malam ini, diantara kerlipnya sinar temaram lampu kota.
Segelas es kopi, entah apa yan dipikirkannya saat itu. Apakah dia bosan, apakah dia menikmati perbincangan dengan secangkir coklat hangat pada malam yang terlewati saat itu?
Secangkir coklat hangat, entah apa yang dia rasakan saat itu. Dia hanya begitu menikmat malam itu diantara kerlip temaram lampu kota bersama segelas es kopi.

Bolehkah dia mendekat?
Biarkan dia mendekat.
Bolehkah dia menyukainya?
Biarkan dia menyukainya.
Tetapi mungkin semuanya terasa begitu berlebihan, sehingga kata 'menyukai' tak mampu untuk terucap.
Tetapi mungkin semuanya terasa begitu cepat, sehingga kata 'cinta' tak dapat untuk terucap.

Biarkan dia mendekat, biarkan dia menyukainya, biarkan dia mencintainya, walau malam itu, rasa itu belum mampu untuk dia ucapkan.